Senin, 22 Februari 2016

Percakapan dengan Putraku

Senin, 12 Mei 2012



Sesungguhnya anak-anak lelaki adalah milik pusaka TUHAN, 
dan buah kandungan adalah suatu upah 
Maz 127 : 3


                                                                                                                            Seusai mengajar di kampus malam ini aku sempatkan masuk ke kamar putra sulungku,  Jeremy yang sedang mengetik dengan laptopnya.  Sambil mengelus punggungnya aku bertanya, “Apakah benar kamu tidak mau masuk ke univ swasta jika tidak bisa masuk kedokteran negri, Ko?” Tanpa melihat ke arahku dia menjawab, “Tidak ma, mahal... Kalau tidak dapat tahun ini, ya coba tahun depan lagi...” Langsung kusambar, “Kalau tahun depan juga tidak masuk?” Dengan entengnya dia menjawab, “Mungkin artinya Tuhan tidak mau aku masuk kedokteran kali... Aku ga mau masuk kedokteran kalau tidak di Univ Negri!”  Aku tidak menimpali jawabannya, agak terkejut memang, aku segera meninggalkannya, masuk ke kamarku sambil membawa kecemasan. Ya, Tuhan... apakah hanya karena biaya yang mahal kami tidak bisa memasukkan Jeremy ke FK Swasta?  Terbayang niatku untuk menjual rumah kami di Bekasi untuk membiayai dia, mana tega membiarkan anak kehilangan cita-citanya hanya karena masalah biaya, walaupun sebenarnya kami tidak menganjurkannya untuk kuliah di kedokteran.

                Biasanya kalau pulang malam setelah mengajar, aku akan kelelahan dan  tidak memasak, Jacky menolong membelikan sate ayam untuk dimakan sebagai menu makan malam.  Sambil menikmati sate, aku kembali membuka percakapan mengenai persiapan menghadapi tes masuk PTN, “Gimana persiapan kamu, Ko? Sudah siap? Seberapa yakin kamu bisa masuk UI?”  Putraku memberi jawaban yang tidak pernah kusangka selama ini, “Tidak siap, aku belum siap kuliah, ma... Aku mau menunda setahun untuk tidak kuliah dulu karena aku belum siap untuk kuliah”  Aku mulai terpancing emosi mendengar jawabannya, mana sanggup mendengar kalau ia akan sengaja menggagalkan tes masuknya dengan alasan dia tak siap... Suamiku terdiam, aku tahu dia sama kagetnya, hanya ketenangannya sanggup membuatnya tidak bereaksi lebih.  Jeremy segera memberondong aku dengan segala argumentasi yang sudah seminggu dipikirkannya, “Sebenarnya, aku sudah mau bicara dengan mama, tapi belum ada waktu yang tepat...”

 Rupanya Tuhan memberikan kesempatan kepada kami malam ini untuk membicarakannya, thanks God.  Lebih mudah mengkonseling anak orang lain dibandingkan anak sendiri, karena perasaanku ikut main dan terlibat dalam, walaupun berusaha untuk memisahkan antara teori konseling dengan perasaan marah, bingung, kasihan yang bercampur jadi satu saat mendengar kecemasan putraku, aku tetap sulit melakukannya. Di hati kecilku, aku membenarkan pemikirannya kalau selama ini dia telah salah memilih prioritas.  Ambisi mengejar nilai baik dan menunjukkan prestasi telah membuatnya kehilangan kesempatan untuk memilih mana subjek atau pelajaran yang penting untuk masa depannya.  Jeremy terus memberondongku dengan pemikiran-pemikirannya, ia berkata, “Aku sudah salah mengikuti pemikiran kebanyakan orang bahwa anak yang cerdas dan pintar adalah anak yang bisa mat, sehingga aku ikut-ikutan masuk Mat Club, ikut kompetisi Mat... aku belajar integral tanpa mengerti buat apa aku belajar! Aku tidak menikmati pelajaran-pelajaran itu. Seharusnya anak-anak yang tidak mau masuk jurusan Mat, tidak perlu belajar sedalam itu, supaya mereka punya waktu untuk mempelajari subjek yang disukainya, yang diminatinya! Padahal aku suka menulis, aku pernah jadi juara lomba menulis sewaktu di SMP, tapi itu semua tidak pernah aku dalami, karena tersita dengan semua pelajaran-pelajaran tak berguna! Pendidikan di Indonesia tidak tahu mana yang penting untuk siswanya!”  Aku tidak tahan mendengar kemarahannya, aku siap melawan argumentasinya, aku ingin mengatakan bahwa masa sekolah tetap ada gunanya, setidaknya untuk pembentukan kebiasaan belajar, karakter... Tapi setiap aku mau bicara, Jeremy lebih dahulu memotong, “Dengarkan aku dulu ma, jangan potong aku.... Ini pikiran aku setelah aku selesai UN! Setelah UN aku punya waktu untuk memikirkan arti sekolah, dan ternyata itu semua tidak terlalu banyak berguna untuk hidup! Apa yang aku pelajari selama ini, tidak akan terpakai saat aku kuliah... Aku tidak mau mengalami masa kuliah seperti aku mengalami masa SMAku, masa sekolahku, aku belajar hanya demi nilai, aku tidak menikmatinya” Pelurunya belum habis, “Mama tahu, kalau mama tanya pelajaran bio, fis, kimia saat aku di kelas 10, aku sudah lupa, tapi aku ingat semua tentang sejarah... Nama raja-rajanya, karena waktu SD aku suka menonton dan aku senang, jadi aku ingat sampai sekarang!”

Aku mengenal putraku dengan baik, biasanya kalau dia sudah bertekad, dia tidak akan menyerah, tetapi kalau dia sudah melepas, dia akan lepaskan tanpa mau mendengar apa penilaian orang terhadap dirinya, terbukti ketika dia mengatakan, “Ma, aku ga mau masuk PTN hanya untuk sebuah status, aku ga mau kalau aku tidak menikmati belajarnya, aku ga mau belajar untuk nilai, aku ga mau jadi dokter yang biasa-biasa saja...” Kali ini aku menangis, di satu sisi aku marah karena keputusannya yang kuanggap kurang bertanggung jawab karena dia berencana akan menggagalkan tesnya , tapi di sisi yang lain, aku begitu bangga padanya, putraku sudah dewasa, dia bukan lagi Jeremy kecilku yang selalu berusaha untuk menyenangkan hati orang, tapi Jeremy yang punya prinsip dan berani menyatakan pikirannya.  Aku langsung teringat nasehatnya beberapa hari lalu kepada Abigail, “Abi, kamu tidak usah masuk SMA, kamu tidak perlu belajar Fisika, Mat, karena menurut Koko, kamu tidak punya bakat. Lebih baik kamu benar-benar belajar musik, karena itu akan jadi hidup kamu. Siapa bilang orang yang bisa Mat lebih pinter dari orang yang bisa main musik...”  Oh, jadi itu maksudnya mengapa ia memotivasi adik perempuannya untuk masuk ke SMK jurusan musik selepas dari SMP.  Kamu sudah dewasa, Nak... Mama seakan tidak bisa mengejar cara berpikirmu yang lebih arif daripada kami yang sudah lebih tua.

Lama kami berdiskusi, lebih tepatnya berdebat, masing-masing menyatakan argumentasinya. Suamiku tampaknya sengaja menghindar, aku tahu kalau dia juga merasa galau, tidak siap menghadapi pemikiran putranya yang agak radikal. Hem... beberapa buku yang dibacanya tampaknya memang sangat mempengaruhi cara berpikirnya. Dia tetap pada keputusannya untuk ‘menyerah’ di tahun ini dan akan memperdalam bahasa Inggris dan terus ikut bimbel untuk mencoba lagi di tahun depan.  Keputusan itu dibuatnya dengan harapan dia akan lebih siap saat mengikuti kuliah sehingga dapat menikmati kuliahnya. Aku masih mencoba berbicara, kali ini aku melunak, mengajaknya berpikir lebih jernih dan logis, tentu sambil berdoa agar Tuhan memberi hikmat, “Ko, mama tidak keberatan kamu mengulang tes di tahun ajaran depan kalau kamu sudah berusaha maksimal dan ternyata tidak diterima. Menurut mama itu jalan Tuhan. Tetapi kalau kamu sengaja akan menggagalkan, itu yang mama tidak pikir kamu bersikap tidak adil. Tidak selalu Tuhan memberi kesempatan jika kita tidak menggunakannya. Kamu siap pun, kamu sepintar apa pun, kalau Tuhan tidak mengijinkan, kamu tetap tidak akan diterima, jadi jangan bermain-main dengan sebuah kesempatan...”  Putraku masih tetap tidak bergeming, dia makin menyatakan bahwa dia tidak siap. Akhirnya aku bertanya, apa sebaiknya dia mencoba jurusan lain saja yang mungkin tidak seberat kedokteran, tetapi ternyata bukan itu jawabannya, “Ma, aku tetap memilih bidang kedokteran, aku hanya ingin menundanya setahun sampai aku siap... sampai kemampuan bahasa Inggrisku memadai untuk dengan mudah membaca buku-buku teks!”  Oh, itu rupanya... Akhirnya jalan keluar coba kutawarkan, “Ko, tidakkah kamu akan merasa lelah dan buang-buang waktu jika kamu harus mundur setahun untuk persiapan lagi, harus belajar lagi pelajaran Mat, Fisika, Kimia, yang menurut kamu tidak berguna? Sementara sekarang kamu sudah hampir finish, sudah hampir selesai?  Bukankah energi kamu akan terbuang percuma? Ayolah Nak, teruslah berjuang, jangan mundur... Kalau ternyata memang tidak bisa, ya sudah, kami tidak paksa kamu... setelah selesai tes, kami akan memberimu kesempatan untuk ikut kursus intensif untuk improve Inggrismu, masih ada waktu tiga bulan untuk mempersiapkannya”  Rupanya penjelasan ini logis baginya dan ia menyetujuinya.  “Oh Tuhan, lega rasanya, setidaknya aku tahu, putraku belum menyerah, semangatnya dibangkitkan lagi ....”

Kami menutup ‘perdebatan’ kami dengan doa, aku mendoakan putraku, aku menyerahkan putra sulungku untuk dipakai Allah untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Aku percaya, putraku akan jadi alat di tangan-Nya karena banyak hal yang kuamati darinya, yang membuatnya tampak berbeda dengan remaja seusianya; kematangannya, kesopanannya, cara berpikirnya, kepeduliannya... Tuhan aku juga mau mulai berdoa untuk cita-cita yang pernah ditulisnya, jujur aku mentertawakannya saat membaca  ia  menulis, “Aku mau jadi mentri kesehatan”. Biarlah kehendak-Mu yang jadi, Tuhan, amin. (dhs)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar