Sesungguhnya anak-anak lelaki adalah milik pusaka TUHAN,
dan buah kandungan adalah suatu upah
Maz 127 : 3
Seusai mengajar di kampus malam ini aku sempatkan masuk ke kamar putra
sulungku, Jeremy yang sedang mengetik
dengan laptopnya. Sambil mengelus
punggungnya aku bertanya, “Apakah benar kamu tidak mau masuk ke univ swasta
jika tidak bisa masuk kedokteran negri, Ko?” Tanpa melihat ke arahku dia menjawab,
“Tidak ma, mahal... Kalau tidak dapat tahun ini, ya coba tahun depan lagi...”
Langsung kusambar, “Kalau tahun depan juga tidak masuk?” Dengan entengnya dia
menjawab, “Mungkin artinya Tuhan tidak mau aku masuk kedokteran kali... Aku ga
mau masuk kedokteran kalau tidak di Univ Negri!”
Aku tidak menimpali jawabannya, agak terkejut memang, aku segera
meninggalkannya, masuk ke kamarku sambil membawa kecemasan. Ya, Tuhan... apakah
hanya karena biaya yang mahal kami tidak bisa memasukkan Jeremy ke FK Swasta? Terbayang niatku untuk menjual rumah kami di
Bekasi untuk membiayai dia, mana tega membiarkan anak kehilangan cita-citanya
hanya karena masalah biaya, walaupun sebenarnya kami tidak menganjurkannya untuk
kuliah di kedokteran.
Biasanya
kalau pulang malam setelah mengajar, aku akan kelelahan dan tidak memasak, Jacky menolong membelikan sate
ayam untuk dimakan sebagai menu makan malam.
Sambil menikmati sate, aku kembali membuka percakapan mengenai persiapan
menghadapi tes masuk PTN, “Gimana persiapan kamu, Ko? Sudah siap? Seberapa
yakin kamu bisa masuk UI?” Putraku
memberi jawaban yang tidak pernah kusangka selama ini, “Tidak siap, aku belum
siap kuliah, ma... Aku mau menunda setahun untuk tidak kuliah dulu karena aku
belum siap untuk kuliah” Aku mulai
terpancing emosi mendengar jawabannya, mana sanggup mendengar kalau ia akan
sengaja menggagalkan tes masuknya dengan alasan dia tak siap... Suamiku
terdiam, aku tahu dia sama kagetnya, hanya ketenangannya sanggup membuatnya
tidak bereaksi lebih. Jeremy segera
memberondong aku dengan segala argumentasi yang sudah seminggu dipikirkannya,
“Sebenarnya, aku sudah mau bicara dengan mama, tapi belum ada waktu yang
tepat...”
Rupanya Tuhan memberikan kesempatan kepada
kami malam ini untuk membicarakannya, thanks
God. Lebih mudah mengkonseling anak
orang lain dibandingkan anak sendiri, karena perasaanku ikut main dan terlibat
dalam, walaupun berusaha untuk memisahkan antara teori konseling dengan
perasaan marah, bingung, kasihan yang bercampur jadi satu saat mendengar
kecemasan putraku, aku tetap sulit melakukannya. Di hati kecilku, aku
membenarkan pemikirannya kalau selama ini dia telah salah memilih prioritas. Ambisi mengejar nilai baik dan menunjukkan
prestasi telah membuatnya kehilangan kesempatan untuk memilih mana subjek atau
pelajaran yang penting untuk masa depannya.
Jeremy terus memberondongku dengan pemikiran-pemikirannya, ia berkata,
“Aku sudah salah mengikuti pemikiran kebanyakan orang bahwa anak yang cerdas
dan pintar adalah anak yang bisa mat, sehingga aku ikut-ikutan masuk Mat Club,
ikut kompetisi Mat... aku belajar integral tanpa mengerti buat apa aku belajar!
Aku tidak menikmati pelajaran-pelajaran itu. Seharusnya anak-anak yang tidak
mau masuk jurusan Mat, tidak perlu belajar sedalam itu, supaya mereka punya
waktu untuk mempelajari subjek yang disukainya, yang diminatinya! Padahal aku
suka menulis, aku pernah jadi juara lomba menulis sewaktu di SMP, tapi itu
semua tidak pernah aku dalami, karena tersita dengan semua pelajaran-pelajaran
tak berguna! Pendidikan di Indonesia tidak tahu mana yang penting untuk
siswanya!” Aku tidak tahan mendengar
kemarahannya, aku siap melawan argumentasinya, aku ingin mengatakan bahwa masa
sekolah tetap ada gunanya, setidaknya untuk pembentukan kebiasaan belajar,
karakter... Tapi setiap aku mau bicara, Jeremy lebih dahulu memotong,
“Dengarkan aku dulu ma, jangan potong aku.... Ini pikiran aku setelah aku
selesai UN! Setelah UN aku punya waktu untuk memikirkan arti sekolah, dan
ternyata itu semua tidak terlalu banyak berguna untuk hidup! Apa yang aku
pelajari selama ini, tidak akan terpakai saat aku kuliah... Aku tidak mau
mengalami masa kuliah seperti aku mengalami masa SMAku, masa sekolahku, aku
belajar hanya demi nilai, aku tidak menikmatinya” Pelurunya belum habis, “Mama
tahu, kalau mama tanya pelajaran bio, fis, kimia saat aku di kelas 10, aku
sudah lupa, tapi aku ingat semua tentang sejarah... Nama raja-rajanya, karena
waktu SD aku suka menonton dan aku senang, jadi aku ingat sampai sekarang!”
Aku mengenal putraku dengan
baik, biasanya kalau dia sudah bertekad, dia tidak akan menyerah, tetapi kalau
dia sudah melepas, dia akan lepaskan tanpa mau mendengar apa penilaian orang
terhadap dirinya, terbukti ketika dia mengatakan, “Ma, aku ga mau masuk PTN
hanya untuk sebuah status, aku ga mau kalau aku tidak menikmati belajarnya, aku
ga mau belajar untuk nilai, aku ga mau jadi dokter yang biasa-biasa saja...” Kali
ini aku menangis, di satu sisi aku marah karena keputusannya yang kuanggap
kurang bertanggung jawab karena dia berencana akan menggagalkan tesnya , tapi
di sisi yang lain, aku begitu bangga padanya, putraku sudah dewasa, dia bukan
lagi Jeremy kecilku yang selalu berusaha untuk menyenangkan hati orang, tapi
Jeremy yang punya prinsip dan berani menyatakan pikirannya. Aku langsung teringat nasehatnya beberapa
hari lalu kepada Abigail, “Abi, kamu tidak usah masuk SMA, kamu tidak perlu
belajar Fisika, Mat, karena menurut Koko, kamu tidak punya bakat. Lebih baik
kamu benar-benar belajar musik, karena itu akan jadi hidup kamu. Siapa bilang
orang yang bisa Mat lebih pinter dari orang yang bisa main musik...” Oh, jadi itu maksudnya mengapa ia memotivasi
adik perempuannya untuk masuk ke SMK jurusan musik selepas dari SMP. Kamu sudah dewasa, Nak... Mama seakan tidak
bisa mengejar cara berpikirmu yang lebih arif daripada kami yang sudah lebih
tua.
Lama kami berdiskusi, lebih
tepatnya berdebat, masing-masing menyatakan argumentasinya. Suamiku tampaknya
sengaja menghindar, aku tahu kalau dia juga merasa galau, tidak siap menghadapi
pemikiran putranya yang agak radikal. Hem... beberapa buku yang dibacanya
tampaknya memang sangat mempengaruhi cara berpikirnya. Dia tetap pada
keputusannya untuk ‘menyerah’ di tahun ini dan akan memperdalam bahasa Inggris
dan terus ikut bimbel untuk mencoba lagi di tahun depan. Keputusan itu dibuatnya dengan harapan dia
akan lebih siap saat mengikuti kuliah sehingga dapat menikmati kuliahnya. Aku
masih mencoba berbicara, kali ini aku melunak, mengajaknya berpikir lebih
jernih dan logis, tentu sambil berdoa agar Tuhan memberi hikmat, “Ko, mama
tidak keberatan kamu mengulang tes di tahun ajaran depan kalau kamu sudah
berusaha maksimal dan ternyata tidak diterima. Menurut mama itu jalan Tuhan.
Tetapi kalau kamu sengaja akan menggagalkan, itu yang mama tidak pikir kamu
bersikap tidak adil. Tidak selalu Tuhan memberi kesempatan jika kita tidak
menggunakannya. Kamu siap pun, kamu sepintar apa pun, kalau Tuhan tidak
mengijinkan, kamu tetap tidak akan diterima, jadi jangan bermain-main dengan
sebuah kesempatan...” Putraku masih
tetap tidak bergeming, dia makin menyatakan bahwa dia tidak siap. Akhirnya aku
bertanya, apa sebaiknya dia mencoba jurusan lain saja yang mungkin tidak
seberat kedokteran, tetapi ternyata bukan itu jawabannya, “Ma, aku tetap
memilih bidang kedokteran, aku hanya ingin menundanya setahun sampai aku
siap... sampai kemampuan bahasa Inggrisku memadai untuk dengan mudah membaca
buku-buku teks!” Oh, itu rupanya...
Akhirnya jalan keluar coba kutawarkan, “Ko, tidakkah kamu akan merasa lelah dan
buang-buang waktu jika kamu harus mundur setahun untuk persiapan lagi, harus
belajar lagi pelajaran Mat, Fisika, Kimia, yang menurut kamu tidak berguna?
Sementara sekarang kamu sudah hampir finish,
sudah hampir selesai? Bukankah energi
kamu akan terbuang percuma? Ayolah Nak, teruslah berjuang, jangan mundur...
Kalau ternyata memang tidak bisa, ya sudah, kami tidak paksa kamu... setelah
selesai tes, kami akan memberimu kesempatan untuk ikut kursus intensif untuk improve Inggrismu, masih ada waktu tiga
bulan untuk mempersiapkannya” Rupanya penjelasan
ini logis baginya dan ia menyetujuinya.
“Oh Tuhan, lega rasanya, setidaknya aku tahu, putraku belum menyerah,
semangatnya dibangkitkan lagi ....”
Kami menutup ‘perdebatan’ kami
dengan doa, aku mendoakan putraku, aku menyerahkan putra sulungku untuk dipakai
Allah untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Aku percaya, putraku akan jadi alat di
tangan-Nya karena banyak hal yang kuamati darinya, yang membuatnya tampak
berbeda dengan remaja seusianya; kematangannya, kesopanannya, cara berpikirnya,
kepeduliannya... Tuhan aku juga mau mulai berdoa untuk cita-cita yang pernah
ditulisnya, jujur aku mentertawakannya saat membaca ia menulis, “Aku mau jadi mentri kesehatan”. Biarlah
kehendak-Mu yang jadi, Tuhan, amin. (dhs)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar